BREAKING NEWS

RSUD dr. Sayidiman Temukan Kasus Baru, Dokter Spesialis Paru Ingatkan Bahaya Tunda Pengobatan TBC


Magetan, exposejatim.com – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi momok serius bagi kesehatan masyarakat Magetan. Minimnya kesadaran warga untuk memeriksakan diri sejak dini memicu risiko fatalitas tinggi akibat keterlambatan penanganan medis.

Dokter Spesialis Paru RSUD dr. Sayidiman Magetan, dr. Achmad Syamsufandi Rozi, Sp.P, mengungkapkan bahwa temuan kasus baru TBC terus terjadi secara konstan. Setiap minggu, rumah sakit senantiasa menemukan pasien baru yang terinfeksi bakteri ini.

“Setiap minggu pasti saya temukan satu atau dua kasus TBC, baik dari rawat inap maupun rawat jalan,” ujar dr. Achmad di Poliklinik Paru RSUD dr. Sayidiman.

Menurut dr. Achmad, mayoritas pasien datang dalam kondisi stadium sedang hingga berat. Ia menekankan, TBC bukanlah penyakit yang bisa disepelekan, sebab kondisi tubuh dapat memburuk dengan sangat cepat jika tidak segera diobati.

“Jika sudah parah, pasien jarang ke poliklinik karena langsung ke IGD, lalu ke ruang perawatan. Namun, seringkali tak lama kemudian meninggal. Kalau sudah berat memang sulit ditangani. Kondisi pasien yang sudah kritis saat terdiagnosis TBC, akan mempercepat kematiannya,” jelasnya.

Guna mencapai target eliminasi TBC pemerintah pusat pada tahun 2030, RSUD dr. Sayidiman Magetan bersinergi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan melalui langkah proaktif, salah satunya program jemput bola ke desa-desa di tiap kecamatan untuk menjaring warga terduga TBC.

“Kami jemput bola ke desa-desa. Di setiap desa dalam kecamatan tertentu, kami melakukan screening atau mencari individu yang terduga TBC. Jadi, kami membuka pelayanan di desa, menyediakan konsultasi, dan foto rontgen keliling,” tambahnya.

Dokter Achmad juga mengimbau masyarakat untuk mengenali gejala klinis TBC sejak awal guna memutus rantai penularan. Ciri-ciri khas yang harus diwaspadai meliputi batuk lama lebih dari 2 minggu, penurunan berat badan drastis dalam waktu singkat, serta keringat dingin di malam hari.

“Ciri paling khas adalah batuk yang berkepanjangan, lebih dari 2 minggu. Bisa disertai sesak napas, tapi tidak selalu. Yang paling khas lagi adalah penurunan berat badan lebih dari 2 kg dalam waktu singkat, serta keringat dingin di malam hari,” papar dr. Achmad.

Ia mengingatkan, penularan TBC sangat mudah terjadi melalui droplet (percikan ludah) saat berinteraksi, terutama di ruangan tertutup tanpa alat pelindung seperti masker. Oleh karena itu, keterbukaan pasien sangat penting untuk melindungi anggota keluarga yang tinggal serumah.

“Kita bisa tertular saat mengobrol berdua tanpa alat pelindung, atau saat ada yang bersin atau batuk di ruangan tertutup seperti ini. Jadi, jika Anda sering batuk, jangan malu untuk berobat, karena penyakit ini sangat menular,” tegasnya.

Tantangan terbesar saat ini adalah realisasi di lapangan, di mana sebagian masyarakat baru berobat ketika kondisi fisiknya sudah parah. Pihak medis berharap masyarakat tidak menutup mata atau malu untuk memeriksakan diri, minimal dengan melakukan foto rontgen jika mengalami batuk yang tak kunjung sembuh dengan obat biasa.

Dokter Achmad menegaskan, penyakit TBC dapat disembuhkan secara total asalkan pasien patuh menjalani pengobatan. Kunci utamanya adalah kedisiplinan mengonsumsi obat secara rutin selama 6 bulan penuh tanpa terputus.(ard)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar